WANIPEDES

Kasus Mirna Kopi Sianida Kembali Tersorot Lewat Film Dokumenter Netflix Terbaru, Inilah Review Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso

Ice Cold Murder, Coffee, and Jessica Wongso

Sebuah gebrakan sinematik telah mengguncang jagat hiburan sejak perilisan film dokumenter terbaru Netflix berjudul "Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso" pada tanggal 28 September 2023. Kasus kontroversial kopi beracun yang sempat memikat perhatian publik pada tahun 2015-2016 kini kembali ke panggung sorot.

Dalam durasi 86 menit, film ini menggabungkan genre dokumenter dan thriller, menghadirkan sentuhan dramatis, sensasi, dan misteri yang menggigit dari Indonesia.

Cerita misterius di seputar Jessica Wongso dan tragedi beracunnya kopi Mirna Salihin kembali diceritakan dengan penuh ketegangan yang mengguncang jiwa penonton.

Saat banyak yang terpukau dengan kehebatan film dokumenter ini, seorang pria bernama Kardono Setyorakhmadi, yang dahulu pernah menjadi editor berita tentang kematian Mirna Salihin, memiliki pandangan yang berbeda.

Kardono, atau yang akrab disapa Ano, telah memantau perkembangan kasus Jessica-Mirna selama tujuh tahun terakhir. Ia berpendapat bahwa film dokumenter Netflix ini tidak membawa elemen baru yang signifikan ke permukaan, kecuali buku harian Jessica.

Setidaknya, ada tiga pertanyaan yang masih menggantung dalam kasus ini:

Apakah ada bukti langsung yang menghubungkan Jessica sebagai pelaku?

Jika Jessica adalah pelaku, apa motifnya?

Adakah kemungkinan Mirna meninggal secara alami?

"Marilah kita kaji satu per satu," kata Ano.

Apakah ada bukti langsung yang menghubungkan Jessica sebagai pelaku?
Salah satu poin kontroversial dalam kasus Jessica-Mirna adalah minimnya bukti langsung yang menghubungkan Jessica sebagai pelaku. Kardono menjelaskan bahwa dalam kasus kriminal sering kali sulit untuk mendapatkan bukti langsung, terutama dalam kasus high profile seperti ini.

"Pada umumnya, kasus kriminal tidak selalu memiliki bukti langsung yang kuat. Kalau kita terlalu mematok pada bukti langsung, banyak kasus lain yang bisa dilepas begitu saja," katanya.

Mengenai motif, Kardono juga menekankan bahwa dalam hukum formal, jaksa tidak diwajibkan membuktikan motif. Ia memberikan contoh kasus Ferdy Sambo, yang dihukum tanpa harus membuktikan motifnya.

"Namun, pada akhirnya, semuanya kembali kepada keyakinan individu. Seperti dalam perdebatan calon presiden, banyak yang sudah memiliki preferensi sebelumnya dan berargumen sesuai dengan pandangan mereka. Netflix hanya memupuk api dalam perdebatan yang sudah memanas," ujar Ano.

Jika Jessica adalah pelaku, apa motifnya?

Ano menjelaskan bahwa dalam sistem peradilan Indonesia, jaksa tidak diwajibkan untuk membuktikan motif. Ini adalah bagian dari prosedur hukum formal di Indonesia, berbeda dengan sistem peradilan Jerman.

"Kembali, saya ingin menyebutkan kasus Ferdy Sambo sebagai contoh. Ia dihukum tanpa jaksa harus membuktikan motifnya."

Namun, jaksa dalam kasus Jessica mengemukakan argumen sederhana: dari urutan peristiwa yang tercatat, terlihat bahwa sianida dicampurkan ke dalam kopi saat Jessica berada sendirian dan memiliki akses ke kopi tersebut.

"Tidak mungkin sianida bisa mencampur sendiri ke dalam kopi," kata Ano yang merupakan lulusan Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Meskipun ada asumsi bahwa Mirna mungkin meninggal karena penyebab alami seperti stroke atau serangan jantung, tetapi bagaimana bisa dijelaskan adanya jejak sianida di dalam kopi yang ia minum?

Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pernah mengungkapkan dugaan motif di balik pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Mereka menduga bahwa Jessica mungkin menyimpan perasaan sakit hati yang mendalam terhadap Mirna. Dugaan ini diperkuat oleh keterangan saksi yang mengindikasikan bahwa Jessica mengalami gejala depresi pada bulan November 2015.

"Pada tanggal 23 November 2015, terlihat adanya peningkatan emosi terdakwa Jessica yang awalnya ditujukan kepada dirinya sendiri, namun kemudian diarahkan kepada orang lain yang dekat dengannya, atau yang bisa membantunya tetapi tidak memberikan bantuan sesuai harapannya," kata Hakim Binsar Gultom saat membacakan analisis yuridis dalam putusan Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 27 Oktober 2016.

Namun, Jessica membantah keras dugaan tentang motif sakit hati tersebut.

Adakah kemungkinan Mirna meninggal secara alami?

Kardono juga menyoroti keputusan ayah Mirna yang menolak melakukan otopsi lengkap. Sampel dari lambung Mirna tidak dianggap cukup kuat untuk membuktikan adanya racun.

Ano berpendapat bahwa fakta ini masih menjadi pertanyaan yang patut dipertimbangkan, terutama dalam kaitannya dengan keyakinan kuat yang dimiliki oleh ayah Mirna tentang penyebab kematian anaknya. Upayanya mencari keadilan menunjukkan dedikasi yang luar biasa, meskipun metodenya sering menuai kontroversi.

"Sikap tegas sang ayah yang diyakini mengetahui apa yang telah terjadi, bahkan hingga dugaan pengeditan foto mayat anaknya untuk membuatnya terlihat seperti 'red cherry' (seperti yang biasanya terjadi pada kasus keracunan sianida)," ujarnya.

Dalam konflik yang terus berkecamuk, kebenaran dalam kasus ini tampaknya masih jauh dari titik kepastian. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, kasus ini tetap menjadi teka-teki tak terpecahkan yang menarik perhatian masyarakat. Itulah mengapa begitu banyak orang terpikat untuk menyaksikannya.

Namun, pertanyaan kunci tetap mengemuka: Bagaimana mungkin ada jejak sianida yang ditemukan dalam kopi yang diminum oleh Mirna?

Kardono dengan tegas mengingatkan bahwa jejak sianida tersebut sulit dijelaskan jika memang Mirna meninggal secara alami. Meskipun ayah Mirna menolak otopsi penuh, fakta-fakta seperti jejak sianida di dalam kopi dan dalam lambungnya, bersama dengan waktu perkiraan pencampuran sianida, membuat kasus ini tetap menyimpan misteri yang besar.

"Dari berbagai fakta tersebut, jika memang Mirna meninggal secara alami, seperti akibat stroke atau serangan jantung, bagaimana mungkin kita menjelaskan jejak sianida dalam kopinya?" tanya Ano.

"Tentu saja, jika ada spekulasi bahwa ayahnya yang merencanakan semuanya, pertanyaannya adalah kapan ia merencanakan ini? Dan jika ada pihak lain yang terlibat, mengapa Jessica menjadi targetnya? Semua ini membuat kasus semakin kompleks," lanjutnya.

Dalam kebuntuan misteri ini, jawaban masih belum terlihat dengan jelas. Kasus ini terus memikat imajinasi dan rasa ingin tahu masyarakat. Tidak dapat disangkal bahwa jejak sianida dalam kopi Mirna adalah sebuah pertanyaan besar yang masih menggantung.

Ano mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai film dokumenter Netflix ini, tetapi satu hal yang pasti, kasus Jessica-Mirna tetap menjadi salah satu misteri paling rumit dan kontroversial dalam sejarah hukum Indonesia. Meskipun waktu terus berjalan, kebenaran sejati mungkin akan tetap tersembunyi di balik tirai misteri yang mengelilinginya.

Bagi yang penasaran dengan kasus ini, film "Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso" dijamin akan menghadirkan suasana tegang dan pertanyaan yang terus berputar di benak. Kita mungkin tidak akan pernah tahu jawaban sejati, tetapi proses penelusuran kebenaran ini tetap menarik perhatian, seperti kopi hitam yang penuh misteri yang pernah diminum oleh Mirna.

Post a Comment for "Kasus Mirna Kopi Sianida Kembali Tersorot Lewat Film Dokumenter Netflix Terbaru, Inilah Review Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso"